Resesi: Penyebab, Dampak, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Artikel ini terakhir diperbarui January 21, 2021 by Revi Maudy Vekelita
Resesi: Penyebab, Dampak, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Sumber foto: KingVector via Shutterstock
Bagikan ke Teman:

Pandemi COVID-19 memang menyebabkan berbagai dampak yang meluas di berbagai negara, bukan hanya menyebabkan jumlah kematian yang tinggi namun juga berdampak bagi perekonomian negara. Bahkan hampir semua negara di dunia telah melaporkan adanya penurunan ekonomi yang diakibatkan oleh virus COVID-19 yang berawal dari Kota Wuhan, Hubei, China. Mulai dari Korea Selatan, Singapura, Jerman, Prancis, Italia bahkan Amerika Serikat mengalami resesi ekonomi. Indonesia pun telah resmi masuk ke jurang resesi pada akhir 2020 lalu.

Pada artikel kali ini, Qoala akan membahas lebih lanjut mengenai kondisi resesi adalah serta dampak resesi bagi perekonomian, termasuk apa yang terjadi pada Indonesia jika terjadi kelesuan ekonomi.

Apa Itu Arti Resesi Ekonomi?

Jika mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti dari resesi atau depresi ekonomi adalah kelesuan di kegiatan dagang, industri, dan lainnya yang seolah tiada hentinya. Atau menurunnya, mundurnya, berkurangnya kegiatan perdagangan atau industri. Dalam artian, kondisi ini terjadi diakibatkan kelesuan ekonomi.

Jika diulas dalam bidang ekonomi makro, dapat diartikan sebagai kemerosotan kondisi dimana produk domestik bruto (GDP) mengalami penurunan atau saat kondisi pertumbuhan ekonomi riil memiliki nilai negatif dan terjadi selama 2 kuartal maupun lebih dalam 1 tahun. Kemerosotan ekonomi ini dapat mengakibatkan penurunan yang terjadi secara simultan di seluruh aktivitas ekonomi meliputi lapangan pekerjaan, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi juga sering dikaitkan dengan penurunan harga (deflasi) maupun kebalikannya yaitu peningkatan harga yang melonjak tajam (inflasi) di dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi. Kondisi kemerosotan yang terjadis ecara terus menerus akan menyebabkan depresi ekonomi bahkan kebangkrutan ekonomi.

Penyebab Resesi Ekonomi

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab resesi ekonomi di sebuah negara, faktor-faktor yang kompleks dan saling berhubungan satu sama lainnya antara lain adalah:

1. Terjadi Guncangan Ekonomi

Salah satu faktor yang sering mengakibatkan terjadinya kemerosotan ekonomi pada sebuah negara adalah ketika terjadinya guncangan pada perekonomian sebuah negara. Adanya peristiwa yang tidak terduga menyebabkan gangguan perekonomian yang meluas. Seperti yang terjadi saat ini, pandemi COVID-19 melanda hampir di seluruh negara di dunia. Pandemi COVID-19 ini bukan hanya menyebabkan kematian yang cukup tinggi namun juga berdampak bagi penurunan ekonomi negara.

2. Kehilangan Kepercayaan Konsumen

Saat konsumen merasa khawatir dengan kondisi ekonomi, mereka biasanya akan memperlambat atau mengurangi pengeluaran dan menyimpan uang yang dimiliki. Inilah yang membuat daya beli konsumen menjadi menurun dan perekonomian menjadi terganggu. Perlu diketahui jika hampir sekitar 70% PDB sangat bergantung pada tingkat belanja konsumen. Sehingga jika daya beli menurun, maka seluruh perekonomian akan melambat drastis.

3. Suku Bunga yang Tinggi

Suku bunga yang tinggi tentu saja akan membuat berbagai harga barang lainnya menjadi naik. Seperti rumah, mobil, dan lainnya. Perusahaan tentu akan mengurangi pengeluaran dan rencana pertumbuhan dikarenakan biaya yang terlalu tinggi. tentunya ini akan membuat perekonomian menjadi menyusut.

4. Deflasi

Deflasi merupakan sebuah kondisi yang berkebalikan dari inflasi. Di saat deflasi terjadi, harga berbagai produk dan aset mengalami penurunan akibat permintaan besar juga ikut menurun. Saat permintaan menurun, harga juga ikut menurun sebagai solusi agar daya beli konsumen bisa meningkat. Sehingga orang-orang akan menunda untuk membeli, menunggu harga menjadi lebih rendah, menyebabkan spiral terus menurun maupun aktivitas perekonomian menjadi lambat hingga menyebabkan angka pengangguran yang lebih besar.

5. Gelembung Aset

Di dalam gelembung aset, harga-harga barang semisal saham, teknologi, real estat dan lainnya mengalami kenaikan yang cepat dikarenakan pembeli percaya jika harga terus meningkat saat sebelum terjadi resesi. Namun saat gelembung pecah, maka orang-orang akan kehilangan apa yang dimiliki diatas kertas sehingga menyebabkan munculnya kekhawatiran. Akibatnya tentu saja orang (khususnya yang memiliki usaha atau bisnis) dan perusahaan tentu akan menarik kembali pengeluaran yang menyebabkan munculnya resesi.

6. Perubahan Teknologi

Hal ini pun juga turut menyumbang faktor terjadinya kelesuan ekonomi. Adanya penemuan baru bisa meningkatkan produktivitas serta turut membantu perekonomian negara dalam jangka panjang. Akan tetapi tentu saja tetap ada kemungkinan periode penyesuaian jangka pendek untuk teknologi tersebut. Seperti pada abad ke-19, terjadi gelombang teknologi hemat tenaga kerja. Adanya revolusi industri ini nyatanya membuat hampir seluruh profesi menjadi usang, memicu kondisi depresi ekonomi hingga mengalami masa-masa sulit. Dan saat ini banyak pakar ekonomi yang mengkhawatirkan tentang teknologi AI dan Robot yang bisa memicu kondisi depresi dikarenakan banyak pekerja yang kehilangan usaha dan mata pencaharian.

Gejala atau Indikator Resesi

Tentu saja ada beberapa indikator yang menjadi tolak ukur apakah sebuah negara akan mengalami resesi atau tidak. Apa sajakah itu? Simak poin-poin dibawah ini

1. Pertumbuhan Perekonomian yang Melambat atau Menurun Hingga 2 Kuartal Berturut-turut

Ini menjadi indikator yang menunjukkan sebuah negara akan mengalami kemerosotan perekonomian. Seperti yang diketahui, perkembangan perekonomian dijadikan sebagai tolak ukur menentukan baik buruknya perekonomian sebuah negara. Jadi bisa dikatakan jika sebuah negara mengalami perekonomian yang baik, maka pertumbuhan akan naik (positif). Begitu pula sebaliknya jika kondisi ekonomi sedang buruk, maka pertumbuhan ekonomi negara akan menurun. Pertumbuhan perekonomian negara mengacu pada pendapatan nasional, yaitu jumlah total konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi, dan ekspor (yang dikurangi nilai impor).

Jika pendapatan nasional sebuah negara mengalami penurunan hingga 6 bulan berturut-turut bahkan dari tahun ke tahun maka bisa dipastikan jika negara mengalami resesi ekonomi.

2. Inflasi atau Deflasi yang Tinggi

Gejala resesi lainnya yang menunjukkan sebuah negara mengalami penurunan perekonomian adalah jika terjadinya peningkatan inflasi dan deflasi yang berlebihan di sebuah negara. Inflasi memang bermanfaat untuk beberapa kepentingan tertentu, namun jika tingkatnya terlalu tinggi maka dikhawatirkan dapat mempersulit kondisi perekonomian masyarakat. Inflasi yang tinggi menyebabkan harga produksi dan komoditi menjadi mahal, sehingga masyarakat tidak mampu menjangkaunya. Apalagi bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. Kondisi perekonomian tentu semakin parah saat kenaikan inflasi tidak diiringi dengan daya beli masyarakat yang tinggi.

Bukan hanya inflasi, deflasi yang berlebihan juga dapat menunjukkan kondisi penurunan ekonomi. Berkebalikan dari inflasi, deflasi merupakan kondisi dimana harga komoditas menurun drastis sehingga dapat mempengaruhi pendapatan dan laba perusahaan. Sehingga perusahaan nantinya bisa mengalami kerugian dikarenakan tidak dapat menutupi biaya produksi.

3. Impor yang Lebih Besar Dibandingkan Ekspor

Aktivitas ekspor dan impor dibutuhkan sebuah negara dengan tujuan menjalin kerja sama ekonomi dengan negara-negara lainnya. Adanya kegiatan ekspor dan impor menyebabkan kebutuhan sebuah produk di masing-masing negara terpenuhi dengan baik. Sehingga, jika sebuah negara mengalami kekurangan komoditas tertentu, maka bisa memilih mengimpor komoditi tersebut dari negara lain. Sedangkan bagi negara dengan komoditas lebih maka dapat melakukan ekspor ke negara yang membutuhkan. Akan tetapi agar menjaga kestabilan ekonomi sebuah negara, jangan sampai membuat tingkat aktivitas impor lebih tinggi dibandingkan aktivitas ekspor. Hal ini akan beresiko menyebabkan defisit anggaran negara hingga menyebabkan pendapatan nasional menurun. Lebih buruknya lagi adalah negara bisa mengalami resesi.

4. Angka Pengangguran yang Tinggi

Sumber daya manusia yaitu tenaga kerja adalah salah satu faktor penting di dalam produksi yang berpengaruh bagi perekonomian bangsa. Akan tetapi jika sebuah negara tidak bisa menyediakan maupun menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat lokal, maka membuat tingkat pengangguran menjadi semakin tinggi. Hal ini menyebabkan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidup menjadi rendah dan memicu berbagai tindakan kriminal di lingkungan masyarakat. Negara yang memiliki tingkat pengangguran tinggi dapat mengindikasikan sebuah negara mengalami penurunan ekonomi dalam waktu singkat,.

5. Ketidakseimbangan Produksi dan Konsumsi

Keseimbangan produksi dan konsumsi adalah dasar dari pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Jika terjadi ketidakseimbangan antara keduanya, bisa menyebabkan munculnya permasalahan di dalam siklus perekonomian yang berjalan. Ini menjadi ciri-ciri resesi ekonomi yang perlu diperhatikan. Jika jumlah produksi melebihi dari tingkat konsumsi, maka ini akan menyebabkan penumpukan stok barang-barang produksi. Namun apabila jumlah konsumsi cukup banyak dibandingkan jumlah produksi, maka kebutuhan masyarakat tentu akan sulit terpenuhi. Sehingga Negara akan melakukan impor agar bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Namun jika hal ini terus dilakukan maka akan berakibat menurunkan keuntungan perusahaan yang dapat melemahkan pasar modal.

Dampak Resesi

Setelah mengetahui apa yang menjadi faktor penyebab serta indikator resesi sebuah negara, tentu saja banyak orang yang ingin mengetahui apakah yang menjadi dampak jika terjadi kemerosotan perekonomian sebuah negara? Jika sampai terjadi resesi ekonomi di sebuah negara, tentu saja perekonomian sebuah negara akan menurun dan berdampak besar bagi masyarakat. Beberapa dampak resesi ekonomi adalah:

1. Meningkatnya Angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Ini menjadi dampak resesi yang paling dirasakan saat terjadinya penurunan perekonomian di sebuah negara. Pemutusan hubungan kerja akan terjadi dimana-mana. Hal ini bisa menyebabkan perlambatan ekonomi bahkan membuat banyak perusahaan tutup dan tidak beroperasi. Dan lebih buruknya lagi adalah menyebabkan penurunan penjualan dan pemasukan perusahaan.

2. Instrumen Investasi Terancam

Aktivitas yang berlangsung di pasar keuangan juga akan merasakan dampak dari resesi ekonomi. Instrumen investasi bisa mengalami penurunan dikarenakan nilai portofolio atau aset perusahaan (saham) mengalami penurunan akibat kondisi perekonomian negara yang mengalami resesi. Jika perekonomian mengalami penurunan maka masyarakat harus memanfaatkan pendapatan yang masuk dan tidak membelanjakan pemasukan untuk hal-hal yang tidak dibutuhkan.

3. Daya Beli Masyarakat yang Menurun

Dampak lain yang disebabkan perekonomian negara yang menurun adalah daya beli masyarakat yang menurun. Hal ini tentu saja dirasakan para pelaku industri, terutama UMKM. Saat terjadi perekonomian menurun, maka daya beli masyarakat akan menurun. Hal ini dikarenakan masyarakat lebih memilih menyimpan uang mereka. Meskipun deflasi terkadang memberikan keuntungan bagi masyarakat. Namun hal tersebut dapat merusakan kondisi perekonomian yang menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran. Seperti kondisi perekonomian yang terjadi saat ini, sudah banyak pelaku UMKM yang merasakan dampak dari penurunan daya beli masyarakat yang diakibatkan pandemi.

Cara Mengatasi (Penanggulangan) Resesi Ekonomi

Jika terjadi resesi ekonomi Indonesia, apakah hal tersebut bisa diatasi? Pemerintah tentu saja telah menyiapkan berbagai solusi yang bisa digunakan mengatasi penanggulangan resiko ekonomi. Salah satu hal yang menjadi penyebab resesi ekonomi Indonesia 2020 adalah terjadinya penurunan ekonomi yang disebabkan pandemi COVID-19. Sehingga untuk mengantisipasinya adalah dengan meningkatkan konsumsi masyarakat.

Jika tingkat konsumsi anjlok, maka tingkat konsumsi negara harus didorong agar lebih tinggi dan menghindari terjadinya resesi. Hal ini pun telah dijelaskan oleh Iskandar Simorangkir, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan dari Kemenko Perekonomian. Bukan hanya meningkatkan konsumsi, pemerintah juga harus mengupayakan untuk meningkatkan angka investasi yang menurun sebagai cara mengatasi resesi ekonomi.

Di beberapa negara yang mengalami resesi, tingkat investasi memang akan berdampak dan menurun. Baik investasi dan konsumsi menjadi objek pemulihan utama yang perlu diperhatikan dalam mengantisipasi kemerosotan ekonomi. Berbagai instrumen seperti bantuan sosial hingga strategi untuk memulihkan kepercayaan diri para investor harus terus ditingkatkan. Jika sebuah negara ingin keluar dari resesi, maka konsumsi dan investasi adalah kuncinya. Jika konsumsi dan investasi masih berada dalam negative growth maka akan sulit rasanya untuk keluar dari zona kemerosotan perekonomian.

Perbedaan Krisis dan Resesi Ekonomi

Resesi rasanya menjadi salah satu kata yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini mengingat kondisi pandemi covid yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Akan tetapi rasanya masih banyak orang yang belum memahami apa arti dari kata resesi? Banyak orang yang mengaitkan resesi dan krisis ekonomi adalah hal yang sama, padahal keduanya jelas kondisi yang berbeda. Resesi diindikasikan sebagai turunnya daya beli masyarakat sebuah negara secara umum serta meningkatnya angka pengangguran. Sedangkan krisis ekonomi adalah kondisi dimana terjadinya penurunan beberapa indikator perekonomian.

Semisal krisis finansial, yang berarti terjadi penurunan pada sektor keuangan, kinerja perbankan, hingga nilai tukar Rupiah. Ketika satu kuartal negatif maka dapat dikategorikan sebagai kondisi krisis ekonomi. Berbeda dengan resesi, dampak yang terjadi bisa lebih meluas dan lebih besar dibandingkan dengan krisis. Selain itu, jika melihat dari segi waktu pun juga lebih panjang. Resesi terjadi lebih merata pada seluruh sektor perekonomian baik finansial maupun riil.

Daftar Negara yang Mengalami Resesi 2020 karena Pandemi COVID-19

Selain Indonesia, berikut ini negara yang mengalami resesi ekonomi akibat pandemi COVID-19, antara lain:

  • Amerika Serikat
  • Jerman
  • Perancis
  • Italia
  • Korea Selatan
  • Spanyol
  • Hong Kong
  • Filipina
  • Malaysia
  • Inggris
  • Polandia

Berinvestasi Saat Resesi

Pada saat kondisi negara mengalami resesi, apakah baik untuk melakukan investasi? Sah-sah saja sebenarnya untuk berinvestasi ketika kondisi sedang mengalami kemerosotan perekonomian. Namun harus dipilih dengan benar instrumen investasi manakah yang baik dan cocok di kondisi tersebut. Sangat disarankan untuk membidik instrumen investasi yang memiliki nilai tinggi namun harganya sedang turun. Seperti saham dan properti sehingga nantinya kamu bisa mendapatkan nilai hasil yang maksimal.

Pada saat kondisi perekonomian sedang terganggu, kedua instrumen investasi tersebut akan mengalami penurunan harga. Namun ini bisa mendatangkan keuntungan hingga berkali-kali lipat. Hal ini karena kedua instrumen investasi tersebut bisa dibeli dengan harga yang jauh dari harga normal. Dan dapat dijual kembali ketika harga keduanya telah stabil dan normal. Akan tetapi penting untuk diingat jika keuntungan tersebut tidaklah instan. Setidaknya minimal 1 tahun barulah bisa mendapatkan keuntungan.

Pentingnya Memiliki Perencanaan Keuangan yang Baik

Kondisi pandemi seperti saat ini tentu saja tidak bisa diprediksi, dan tentu saja ini menyebabkan kondisi finansial terganggu mengingat hingga kini belum ditemukan titik terang mengenai cara mengatasi kondisi tersebut. Bagi kamu yang tidak memiliki perencanaan keuangan yang baik, tentu saja ini akan sangat berdampak pada kondisi finansial. Bahkan bukan tidak mungkin jika tabungan bisa terkuras habis.

Untuk itu pentingnya memiliki perencanaan keuangan yang baik akan berdampak demi menjaga kesehatan finansial saat terjadi kondisi-kondisi tak terduga seperti pandemi saat ini. Hal pertama tentu saja memperhatikan pemasukan dan pengeluaran setiap bulannya, jangan sampai pengeluaran melebihi dari pemasukan.

Mulai menyisihkan pemasukan untuk dana darurat, hal ini sangat penting untuk mengatasi hal-hal yang tidak terduga di dalam kehidupan. Jangan lupa untuk menabung dan berinvestasi guna meningkatkan nilai kekayaan yang dimiliki. Yang terakhir, pastikan kamu memiliki perlindungan finansial seperti asuransi untuk memproteksi dari kondisi yang tidak terduga seperti resesi.

Itulah beberapa hal mengenai resesi ekonomi yang perlu kamu ketahui. Banyak orang yang bertanya mengenai kapan resesi ekonomi terjadi di Indonesia, padahal secara tidak sadar saat ini kita sedang masuk ke jurang kehancuran ekonomi akibat pandemi COVID-19. Perekonomian yang tidak pasti di kemudian hari mengharuskan kita untuk menata finansial dengan lebih baik serta melindungi keuangan dengan berbagai instrumen proteksi seperti asuransi. Untuk kamu yang sedang mencari produk asuransi terbaik, temukan di Qoala ya!

Bagikan ke Teman:
Riza Dian Kurnia
A great storyteller and an enthusiastic listener. Dont stop when you are tired, stop when you are done.