Ini Jenis-jenis Obligasi untuk Pemula, Wajib Tahu!

Artikel ini terakhir diperbarui August 26, 2021 by Zaky Afdika
Ini Jenis-jenis Obligasi untuk Pemula, Wajib Tahu!
Sumber Foto: fizkes Via Shutterstock
Bagikan ke Teman:

Ada banyak prosuk investasi yang bisa diperjualbelikan. Umumnya, ada tujuh produk investasi yang bisa dijadikan pilihan. Ketujuh produk investasi ini antara lain tabungan, deposito, reksa dana, obligasi, saham, emas, dan juga properti. Produk-produk investasi tersebut tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh sebab itu, alangkah baiknya sebelum menjatuhkan pilihan, cari tahu sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya informasi soal investasi tersebut. Salah satu produk investasi yang akan diulas oleh Qoala kali ini adalah obligasi.Taukah kamu jenis-jenis obligasi yang ada?  Jika dilihat dari keberadaan Obligasi Negara Ritel (ORI), data Pemerintah menunjukkan bahwa adanya peningkatan pembelian obligasi oleh investor. ORI ini diterbitkan pertama kali tahun 2006, jumlah investor yang membeli ORI mulanya berjumlah 16.561 orang. Kemudian jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Data terkini, pada tahun 2020 ORI-017 mencatatkan rekor penerbitan surat berharga negara (SBN) ritel tertinggi sejak dijual secara online pada 2018 yakni hampir mencapai Rp18,33 triliun. Terkait penjualannya sendiri berasal dari 42.733 investor, dengan porsi investor baru mencapai 23.949 orang atau 56% dari total investor. Pertambahan jumlah investor ini tentunya menandakan minat masyarakat terhadap investasi obligasi meningkat hampir setiap tahunnya.

Lalu, apakah obligasi memang sangat menarik untuk dijadikan produk investasi unggulan sehingga peminatnya pun terus bertambah? Apa saja karakterisik obligasi hingga memiliki daya tarik sendiri bagi para investor? Mengapa investor rela untuk mengeluarkan dana demi memiliki obligasi? Sederet pertanyaan tersebut akan dijawab oleh Qoala melalui ulasan berikut ini.

Pengertian Apa Itu Obligasi

pengertian jenis obligasi
Sumber Foto: fizkes Via Shutterstock

Definisi obligasi sendiri adalah surat utang yang diterbitkan oleh penerbit obligasi kepada para pemegang obligasi yang disertai dengan perjanjian untuk membayar kembali pokok utang beserta kupon bunganya pada waktu yang telah ditentukan. Sedangkan definisi obligasi menurut Undang-Undang No. 24 Tahun 2002, Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya.

Umumnya, salam obligasi akan terulis tanggal jatuh tempo pembayaran utang beserta bunganya (kupon) yang menjadi kewajiban penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi. Jangka waktu obligasi yang berlaku di Indonesia sekitar 1 hingga 10 tahun.

Diterbitkannya obligasi disebabkan karena adanya upaya menghimpun dana dari masyarakat yang akan digunakan sebagai sumber pendanaan. Bila ditinjau dari sudut pandang pengusaha, obligasi bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan kucuran dana segar demi berjalannya usaha.

Sementara Negara sendiri memandang obligasi lebih sebagai sumber pendanaan untuk membiayai sebagian defisit anggaran belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Tak jauh beda dengan saham, obligasi juga dapat dijadikan produk yang diperjualbelikan. Jika ingin membeli saham cukup mencari tahu di Bursa Efek Indonesia (BEI), sedangkan obligasi, transaksi jual belinya tak perlu dilakukan di BEI. Dalam artian, obligasi didapatkan dari pihak penerbit yang sepakat melakukan jual beli dengan pembeli.

Jadi tak heran jika obligasi tidak lebih unggul dari saham. Misalnya, pemerintah memiliki peran sebagai salah satu penerbit obligasi. Ketika Pemerintah menerbitkan obligasi, investor yang berminat membelinya bisa mendapatkannya melalui agen penjual. Pembelian lewat agen penjual ini merupakan mekanisme pembelian yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Biasanya, Pemerintah akan menunjuk bank, lembaga sekuritas dan platform investasi tertentu sebagai agen penjual obligasi.

Karakteristik Obligasi

Dalam dunia investasi, istilah obligasi bukan sesuatu hal yang asing untuk didengar. Sebab, obligasi merupakan surat berharga tanda bukti utang. Hanya saja, untuk membedakan dengan surat utang yang berumur pendek atau menengah, yakni jika surat utang dengan jangka waktu di bawah lima tahun, kalau obligasi memiliki jangka waktu atau masa jatuh tempo yang panjang sekitar minimal lima tahun.

Jika dilihat dari penerbitnya, maka jenis obligasi dapat dibedakan menjadi dua yakni obligasi korporasi dengan obligasi negara. Obligasi korporasi merupakan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan atau swasta, sedangkan jika obligasi negara adalah obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah.

Namun, jika disimak dari tingkat suku bunga yang diberikan, maka bisa dibedakan menjadi obligasi yang berbunga tetap (fixed rate bond), obligasi berbunga mengambang (floating rate bond), dan obligasi tanpa bunga (zero coupon bond). Tentunya, masih banyak lagi istilah yang merujuk pada pemahaman tentang obligasi seperti debentures, subordinate debentures, mortgage bonds, junk bonds, dan sebagainya.

Sebagai informasi, obligasi sendiri memiliki beberapa karakteristik khusus. Pertama, obligasi memiliki klaim terhadap aset dan pendapatan perusahaan. Klaim terhadap aset ini terjadi jika perusahaan yang menerbitkan obligasi itu diterpa musibah dan bangkrut, oleh karena itu pemegang obligasi mendapatkan hak pertama untuk didahulukan ketika terjadi penjualan aset. Sedangkan untuk klaim terhadap pendapatan berarti pemegang obligasi memiliki hak terlebih dahulu daripada dividen pemegang saham umum maupun saham preference.

Kedua, obligasi selalu memiliki nilai nominal atau nilai pari (par value). Nilai nominal ini selalu tercantum dalam lembar obligasi. Ketiga, setiap penerbitan obligasi selalu disertakan dengan adanya kupon dengan tingkat suku bunga tertentu. Bunga ini juga bisa dibayar setiap tiga bulan sekali, empat bulan sekali, atau bahkan enam bulan sekali. Contohnya, obligasi dengan bunga tetap 10 persen per tahun, jika ditentukan bahwa bunga dibayar enam bulan sekali, maka besarnya bunga yang dibagi adalah lima persen dari nilai pari (per value). Namun, jika obligasi memiliki nilai Rp100 juta, maka pemegang obligasi akan menerima bunga Rp5 juta (lima persen dari nilai pari) setiap enam bulan sekali sampai masa jatuh tempo.

Karakteristik selanjutnya yakni obligasi memiliki masa jatuh tempo, dengan masa jatuh tempo minimal lima tahun. Ada juga obligasi yang masa jatuh temponya 10 tahun, 15 tahun, atau bahkan 30 tahun.

Kelima, obligasi telah memiliki indenture atau dikenal dengan kontrak antara pihak penerbit obligasi dengan wakil pemegang obligasi. Pihak yang menjadi wakil pemegang obligasi biasa disebut wali amanat. Kontrak itu biasanya lebih berisi soal hak dan kewajiban penerbit dan pemegang obligasi termasuk nilai nominal (par value), kupon (coupon), masa jatuh tempo, dan lain sebagainya.

Tak hanya itu, biasanya dalam kontrak juga berisi daftar ketentuan atau batas-batas ketentuan yang dirancang untuk melindungi pemegang obligasi, antara lain larangan penjualan piutang perusahaan, batasan pembayaran dividen, larangan pembelian atau penjualan aktiva tetap perusahaan dan juga batasan penarikan pinjaman tambahan. Karakteristik kelima dari obligasi ini selalu memiliki current yield (tingkat penghasilan saat ini) yaiturasio pembayaran bunga tahunan (kupon) terhadap harga obligasi.

Dan terakhir, obligasi selalu memiliki peringkat obligasi, seperti AAA, AA+, AA-, BBB+, dan lain sebagainya. Peringkat ini lebih mencerminkan risiko yang terkandung dari obligasi tersebut. Peringkat AAA misalnya, merupakan peringkat yang tertinggi. Peringkat AA+, AA-, BBB+, dan seterusnya menunjukkan peringkat yang semakin rendah. Semakin tinggi peringkat obligasi, maka biasanya semakin rendah tingkat bunga yang ditawarkan. Demikian pula yang terjadi sebaliknya.

Untuk proses pemeringkatannya sendiri dilakukan oleh lembaga independen yang disebut lembaga pemeringkat. Beberapa faktor yang mempengaruhi peringkat seperti proporsi modal terhadap utang, profitabilitas perusahaan, tingkat kepastian dalam meraih pendapatan, dan besar kecilnya perusahaan.

Tentunya, dengan mengetahui karakteristik obligasi, maka investor bisa mengetahui seberapa besar return yang akan didapatkan nantinya serta memilih obligasi apa yang cocok dan sesuai dengan karakternya.

Keuntungan Obligasi

Sebagai salah satu produk investasi yang cukup banyak peminatnya, obligasi memiliki sejumlah keuntungan untuk para pemegangnya, di antara lain:

  • Keuntungan yang diperoleh dari kupon (bunga) yang terdiri atas tiga jenis, antara lain kupon tetap (fixed coupon) dan kupon mengambang (floating/variable coupon). Meski demikian, ada juga obligasi yang tak memberlakukan kupon (zero coupon bond). Imbal balik (yield) obligasi yang didapat biasanya bisa besar tergantung dari jangka waktu obligasi. Makin lama, maka makin besar keuntungannya.
  • Keuntungan yang diperoleh adalah hasil dari selisih harga obligasi (dalam persentase) setelah diperdagangkan. Contohnya, harga awal obligasi 100%. Ketika ingin dijual, maka harganya ternyata naik menjadi 115%. Jadi, kalau ingin menjualnya, keuntungan yang didapat 15% (bisa juga disebut capital gain 15%).
  • Jika yang kamu miliki surat utang negara, sudah pasti akan terjamin sehingga kamu tak perlu khawatir soal keamanannya. Semua tercantum di UU Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara atau UU Nomor 24 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara. Untuk itu pasti dibayar kembali ditambah dengan return (kupon).
  • Kupon atau bunga obligasi lebih tinggi dibandingkan bunga deposito.
  • Mudah dilakukan untuk diperdagangkan di Pasar Sekunder yang diatur mekanisme Bursa Efek Indonesia (BEI) atau transaksi di luar bursa.
  • Bisa dijaminkan sebagai agunan, seperti halnya obligasi negara.

Resiko Obligasi

Hingga saat ini tak satu pun produk investasi yang hanya memiliki kelebihan tanpa memiliki kekurangan. Selain kelebihan, obligasi juga memiliki kekurangan yang perlu diperhatikan, antara lain:

  • Penerbit obligasi memiliki risiko gagal bayar dan konsekuensinya adalah investor tak hanya tidak memperoleh untung, tetapi tak mendapatkan kembali seluruh pokok utang. Namun tak perlu khawatir sebab kekurangan ini tak berlaku pada obligasi negara yang terlindungi oleh undang-undang.
  • Rentan terhadap perubahan suku bunga, ekonomi, dan kondisi politik yang tidak stabil. Biasanya, perubahan-perubahan tersebut juga berdampak pada pasar keuangan.
  • Menjual obligasi sebelum jatuh tempo di Pasar Sekunder akan menimbulkan kerugian bagi investor. Karena harga jualnya lebih rendah dari harga belinya.

Jenis-jenis Obligasi

jenis jenis obligasi yang ada di Indonesia
Sumber Foto: H_Ko Via Shutterstock

Perlu diketahui bahwa obligasi juga memiliki banyak jenis yang terbagi berdasarkan beberapa tolok ukur yang digunakan. Ada empat hal yang menjadi tolok ukur jenis-jenis obligasi yang beredar, yaitu dilihat dari sisi penerbit, besaran nominalnya, sistem pembayaran bunga, dan perhitungan imbal hasil. Berikut jenis-jenis obligasi secara umum yang perlu diketahui.

Jenis-jenis Obligasi Berdasarkan Sisi Penerbit

Dari segi sisi penerbit, jenis-jenis obligasi terdiri atas tiga kelompok, yakni:

1. Obligasi Pemerintah

Jenis ini merupakan jenis obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah. Di Indonesia obligasi jenis ini pertama kali diterbitkan pada Agustus 2006. Obligasi pemerintah Indonesia sendiri terbagi lagi menjadi beberapa jenis di antaranya, Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Ritel (SukRi), Saving Bond Ritel (SBR) dan Sukuk Negara Tabungan (ST).

Sebagai informasi, nama lain dari jenis obligasi pemerintah adalah Treasury Bond. Obligasi pemerintah dinilai memiliki risiko kecil karena dikeluarkan langsung oleh pemerintah atau negara.

2. Obligasi Korporasi

Beda halnya dengan obligasi pemerintah, jenis obligasi ini diterbitkan perusahaan tertentu, baik Pemerintah (BUMN) maupun swasta dengan masa jatuh tempo minimal 1 tahun. Contoh obligasi ini adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menerbitkan obligasi senilai Rp2 triliun pada tahun 2014 dengan tingkat bunga tetap (fixed coupon) yang berjangka lima tahun.

3. Obligasi Daerah

Untuk jenis obligasi ini diterbitkan oleh Pemerintah Daerah. Jenis obligasi ini juga memiliki tujuan yaitu untuk membiayai pembangunan yang berhubungan kepentingan publik.

Jenis-jenis Obligasi Berdasarkan Nominal

Berdasarkan dari nominalnya, ada dua kelompok obligasi yang bisa diperjualbelikan. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Obligasi Konvensional

Obligasi ini merupakan salah satu surat utang yang memiliki nilai nominal besar, kurang lebih sebesar Rp1 miliar per lot.

2. Obligasi Ritel

Untuk obligasi ritel adalah surat utang yang mempunyai nilai nominal kecil, yakni misalnya Rp1 juta.

Jenis-jenis Obligasi Berdasarkan Pembayaran Bunga

Ada empat kelompok obligasi jika dilihat dari sistem pembayaran bunganya. Obligasi-obligasi tersebut antara lain:

1. Obligasi Kupon

Surat utang yang memberikan bunga atau kupon secara berkala kepada investornya. Biasanya setiap kupon ini mewakili nominal tertentu sesuai kesepakatan antara penerbit obligasi dengan investor.

2. Zero Coupon Bond

Untuk jenis obligasi ini merupakan jenis surat utang yang tidak ada bunga dan tidak memberikan kupon secara berkala. Biasanya, investor akan mendapatkan keuntungan dari hasil selisih harga jual diskonto dan nilai awal saat surat utang diperdagangkan. Jatuh tempo jenis obligasi zero coupon bond ini beragam, mulai dari di bawah satu tahun hingga diatas 10 tahun.

3. Obligasi Fixed Coupon atau Kupon Tetap

Obligasi yang menawarkan tingkat suku bunga yang nilainya tetap sampai jatuh tempo surat utang tiba adalah obligasi fixed coupon.

4. Obligasi Floating Coupon atau Kupon Mengambang

Kupon yang ditawarkan oleh jenis obligasi ini bisa berubah nilainya tergantung dengan indeks pasar uang. Pada obligasi ini, terdapat kupon batas minimal di dalamnya yang berarti kupon yang pertama ditetapkan akan menjadi besaran kupon minimal yang berlaku sampai waktu jatuh tempo.

Jenis-jenis Obligasi Berdasarkan Imbal Hasil

Terakhir, jenis obligasi berdasarkan imbal hasil terbagi menjadi dua. Ada obligasi konvensional dan obligasi syariah. Berikut ini penjelasan lebih lengkapnya terkait dua kelompok obligasi tersebut.

1. Obligasi Konvensional

Untuk jenis ini, surat utang diterbitkan oleh suatu pihak untuk mendapatkan pinjaman yang nantinya digunakan sebagai tambahan modal, yakni dengan memberikan imbal hasil/bunga kepada pihak investor dalam jangka waktu tertentu.

2. Obligasi Syariah

Sedangkan untuk surat utang ini lebih memberikan imbal hasil berupa uang sewa yang perhitungannya berdasarkan prinsip syariah Islam dan tidak mengandung unsur riba. Imbal hasil sukuk nantinya akan dibayarkan secara berkala dalam periode tertentu.

Jika obligasi dianggap produk investasi yang cukup banyak menarik minat para investor, maka produk asuransi investasi juga bisa dijadikan pilihan lainnya jika kamu masih ragu untuk berinvestasi dengan obligasi. Sebab, dengan memiliki asuransi investasi, kamu tak perlu rumit soal mengatur financial untuk masa depan. Pada produk asuransi investasi, kamu bisa menikmati dua manfaat utama antara lain manfaat asuransi dan juga manfaat investasi.

Di Indonesia, produk dari asuransi investasi ini telah banyak beradar. Tentunya manfaat yang didapatkan buat beragam. Jika tertarik untuk memiliki asuransi investasi ini, hal pertama yang perlu dilakukan adalah cari tahu lebih lanjut dan detail di Qoala App. Jika kamu masih ingin mengetahuinya lebih dalam, bisa mengunjungi Blog Qoala. Sebab, di sana ada beragam informasi penting terkait asuransi investasi.

Bagikan ke Teman:
Fitrianingsih
A mother who loves to write. Because writing is the painting of the voice.
Cari Asuransi Terbaik di Qoala