Bagi Anda yang pemula dalam trading, terutama saham, ada perlunya tahu cara menggunakan Bollinger Bands.

Dengan tahu cara menggunakan Bollinger Bands, maka akan mempermudah Anda dalam meraih cuan.

Jadi, siap untuk tahu bagaimana cara menggunakan Bollinger Bands?

Nah, berikut ini Qoala berikan info tentang cara menggunakan Bollinger Bands dan informasi terkait lainnya.

Apa Itu Indikator Bollinger Band?

Apa Itu Indikator Bollinger Band
Sumber Foto: Tanakorn Akkarakulchai via Shutterstock

Sebelum masuk ke pembahasan cara menggunakan Bollinger Bands, Anda perlu tahu yang namanya apa itu indikator Bollinger Bands.

Bollinger band adalah salah satu indikator penting yang dipakai di dalam dunia trading.

Menurut kutipan yang diambil dari Pintu Academy, bollinger band adalah indikator trading yang amat populer dan dikembangkan oleh John Bollinger, seorang analis keuangan yang berasal dari Amerika Serikat dan dikenal luas pada tahun 1980-an.

Berdasarkan paparan Investopedia, indikator bollinger bands yang satu ini adalah salah satu dari segelintir alat analisis teknikal buat menghasilkan sinyal overbought dan atau oversold.

Teknik yang satu ini dirancang buat menemukan sinyal beli dan juga jual bagi pemegang saham dengan mengidentifikasi bila suatu aset mengalami oversold dan atau overbought.

Namun, indikator bollinger band ini hanya berfokus kepada harga dan volatilitas aset saja, sehingga ini perlu dikombinasikan dengan indikator lainnya guna memperoleh informasi yang lebih akurat.

Suharto FT (2014) menyatakan bahwa indikator bollinger band ini punya banyak manfaat untuk trader, antara lain:

  1. Mengidentifikasi tren aset.
  2. Menunjukkan volatilitas aset dengan menyempit atau melebarnya indikator bollinger band.
  3. Memberikan sebuah gambaran overbought dan juga oversold dari pergerakan harga aset.

Rumus bollinger band dipakai buat menghitung Upper Bands (upper band) dan juga Lower Bands (lower band):

Upper Bands = Simple Moving Average (SMA) + [D x Std Dev]

Lower Bands = SMA – [D x Std Dev]

Keterangan:

SMA = Simple Moving Average, yaitu harga rata-rata aset pada periode waktu tertentu.

D = Nilai Deviasi, misalnya 1, 2, 3, dan seterusnya.

Std Dev = Standar Deviasi.

Perhitungan rumus di atas cukup rumit dan hanya perlu dipahami sebagai tambahan pengetahuan.

Jadi, yang terpenting adalah paham tentang bagaimana cara membaca bollinger bands dan kemudian mampu memanfaatkannya buat strategi trading.

Purnomo LB (2014) mengungkapkan bahwa ada dua strategi sederhana di dalam penggunaan indikator bollinger band buat trading.

Pertama, sell signal, di mana sinyal jual muncul ketika harga menyentuh upper band, menandakan harga berpotensi melemah.

Posisi yang satu ini dianggap overbought, yakni harga aset telah mencapai titik yang tertinggi dan akan mengalami pullback.

Lalu yang kedua, buy signal, di mana sinyal beli muncul saat harga telah sentuh lower band yang mana perlihatkan harga yang berpotensi menguat.

Posisi ini dianggap oversold, yaitu harga aset mencapai titik terendah dan akan mengalami kenaikan harga.

Elemen Indikator Bollinger Bands

Indikator Bollinger Bands terbagi atas 1 buah Simple Moving Average (SMA). Di SMA ada 2 band dan atau pita yang berada di bawah dan juga di atas garis SMA. Band yang berada di bawah dinamakan Lower Bollinger Bands, sedangkan yang berada di atas dinamakan Upper Bollinger Bands. Indikator ini juga memperhitungkan time frame sebagai salah satu elemennya.

1. Simple Moving Average (SMA)

Moving Average adalah indikator yang banyak digunakan dalam analisis teknikal yang membantu meratakan fluktuasi harga jangka pendek dan mengidentifikasi pergerakan harga jangka panjang. Ada dua jenis Moving Average dasar, yaitu Simple Moving Average (SMA) dan rata-rata bergerak eksponensial (EMA).

Simple Moving Average (SMA) adalah nilai rata-rata aritmatika dari harga saham selama periode waktu tertentu. Rumusnya adalah:

SMA = (P1 + P2 + P3 + … + Pn) / n

Mari kita lihat contoh saham dengan harga penutupan selama 5 hari berikut:

50, 48, 45, 52, 53. Jika kita ingin menggunakan Moving Average 5 hari untuk memprediksi harga saham pada hari keenam, perhitungannya adalah: (50 + 48 + 45 + 52 + 53) / 5 = 49.6.

Dan jika kita hanya ingin menggunakan Moving Average 3 hari untuk memprediksi harga saham pada hari keenam, perhitungannya adalah: (45 + 52 + 53) / 3 = 50.

Sementara perhitungan untuk rata-rata bergerak eksponensial (EMA) lebih kompleks, namun inti dari perhitungannya adalah memberikan bobot lebih pada harga-harga terbaru.

Panjang waktu yang Anda pilih untuk Moving Average, juga dikenal sebagai “periode pencarian ke belakang,” juga memainkan peran penting dalam keputusan Anda.

Moving Average dengan periode pencarian ke belakang yang lebih pendek digunakan untuk perdagangan jangka pendek, sementara Moving Average dengan periode pencarian ke belakang yang lebih panjang lebih sesuai untuk investor jangka panjang.

Moving Average dengan periode pencarian ke belakang yang pendek akan menunjukkan pola yang lebih zigzag, dan bereaksi lebih cepat terhadap perubahan harga daripada MA dengan periode pencarian ke belakang yang panjang.

Salah satu contohnya ditunjukkan dalam grafik berikut. Garis oranye adalah Simple Moving Average 5 hari, sedangkan garis biru adalah Simple Moving Average 30 hari.

Penggunaan paling umum dari Moving Average adalah untuk mengidentifikasi arah tren. Moving Average yang naik menunjukkan bahwa keamanan dalam tren naik, sementara Moving Average yang menurun menunjukkan bahwa keamanan dalam tren turun.

Meskipun Moving Average bermanfaat untuk digunakan sendiri, mereka juga merupakan dasar bagi indikator teknikal lainnya, seperti Bollinger Bands.

Bollinger Bands dikembangkan dan memiliki hak cipta oleh trader teknikal terkenal John Bollinger.

Bollinger Bands biasanya didefinisikan oleh sejumlah garis yang terplot dua deviasi standar (positif dan negatif) dari Simple Moving Average (SMA) harga lembar saham, dan dapat disesuaikan sesuai dengan preferensi pengguna. Salah satu contoh Bollinger Bands dengan SMA 20 hari adalah sebagai berikut.

Informasi yang dapat kita peroleh dari Bollinger Bands adalah volatilitas saham. Ketika band melebar, itu menunjukkan bahwa pasar menjadi lebih volatile; dan jika band menyempit, itu menandakan periode yang kurang volatile.

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah ketika harga saham menembus band. Jika harga saham menembus Upper Bollinger Band, itu menandakan bahwa saham saat ini overbought, dan kita mengharapkan harga akan bergerak kembali di antara dua band di masa depan.

Dan jika harga saham menembus Lower Bollinger Band, itu menandakan bahwa saham saat ini oversold, dan kita mengharapkan harga akan bergerak kembali di antara dua band di masa depan. Namun, Bollinger Bands itu sendiri mungkin tidak cukup untuk memicu sinyal beli atau jual, dan kita harus menggunakan indikator teknikal lainnya untuk membuat keputusan investasi.

2. Upper Band dan Lower Band

Indikator BB terdiri dari dua band samping dan garis tengah. Ketiga elemen ini menunjukkan bagaimana harga bergerak sekitar nilai rata-rata, yang direpresentasikan oleh garis tengah. Bollinger Bands, yakni Upper Bands dan Lower Bands, akan melebar ketika volatilitas pasar tinggi, dan menyempit ketika volatilitas pasar rendah. Mereka akan menjauh dari garis tengah (volatilitas tinggi) atau mendekatinya (volatilitas rendah).

Bollinger Bands adalah salah satu indikator analisis teknikal yang paling banyak digunakan, terutama dalam pasar keuangan tradisional. Namun, indikator ini juga digunakan oleh para trader cryptocurrency. Namun, BB sebaiknya tidak digunakan sebagai alat tunggal, tetapi lebih baik digunakan bersama dengan alat dan indikator analisis teknikal lainnya, untuk mengurangi risiko secara keseluruhan.

Ada beberapa cara dasar untuk membaca dan menginterpretasi informasi yang disediakan oleh indikator BB. Misalnya, bayangkan jika harga suatu aset bergerak dari di bawah garis tengah hingga melewati Upper Bands.

Ini akan menunjukkan potensi kondisi overbought. Logika pembacaan yang sama berlaku untuk sisi yang berlawanan. Jika harga aset melebihi Lower Bands, hal ini mungkin menandakan kondisi oversold. Upper Bands dan Lower Bands juga dapat menunjukkan level potensial support dan resistance, di mana harga kemungkinan akan berbalik arah.

Selain itu, pergerakan Upper Bands dan Lower Bands terhadap garis tengah merupakan faktor yang sangat penting dalam indikator BB. Ekspansi dan kontraksi dari band dapat berguna ketika para trader dan analis grafik mencoba memprediksi periode volatilitas pasar berikutnya (atau sebaliknya).

Sebagai contoh, jika volatilitas mulai meningkat, band akan melebar dan menjauh dari garis tengah. Sebaliknya, jika volatilitas pasar menurun, band akan menyempit dan mendekati garis tengah.

3. Time Frame

Bollinger Bands, sangat berguna dalam menunjukkan support dan resistance serta membantu para trader menggunakan strategi yang mudah digunakan dan akurat untuk mengidentifikasi pembalikan pasar dan breakout.

Namun, seperti halnya dengan jenis trading lainnya, melihat lebih dari satu grafik adalah cara yang baik untuk menambah wawasan dalam trading dan membuat keputusan yang lebih bijaksana. Hal ini terutama berlaku untuk Bollinger Bands, di mana berbagai simple moving averages dari berbagai time frame dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang terjadi dalam pasar.

Dengan Bollinger Bands, kita berdagang dengan menggunakan kurva normal di setiap time frame, tetapi dengan memvariasikan deviasi standar di berbagai time frame, kita dapat melihat dengan lebih rinci arah pasar, meningkatkan kurva normal dengan sudut pandang tambahan.

Beberapa time frame Bollinger dalam satu grafik itu penting, sehingga kita dapat melihat Bollinger Bands untuk time frame yang lebih panjang sambil melihat time frame yang lebih pendek, selalu memberikan pandangan yang lebih terperinci tentang pasar mana pun.

Ini, pada gilirannya, memungkinkan konfirmasi pada saat masuk perdagangan, baik untuk pembalikan atau breakout, dengan akurasi yang lebih tinggi. Berdagang pada grafik 4 jam dan melihat, misalnya, Bollinger Bands pada grafik 1 jam dapat membantu menetapkan perubahan arah dengan lebih cepat.

Tentu saja, setiap time frame juga cocok untuk gaya trading tertentu, dan Bollinger Bands cukup fleksibel untuk sangat berguna di time frame mana pun yang digunakan.

Jika Anda melakukan day trading pada instrumen tertentu, maka grafik yang lebih pendek seperti 1 jam atau bahkan 5 menit atau kurang memiliki detail intraday yang diperlukan untuk melakukan trading cepat dan tajam yang disukai oleh day trader.

Namun, untuk swing trader, grafik time frame yang lebih rendah hanya akan mengganggu, mereka membutuhkan grafik harian atau mingguan yang lebih lama untuk melihat gambaran keseluruhan dari tren yang mereka ikuti.

Dalam setiap kasus, Bollinger Bands sangat berguna dan memberikan visualisasi support dan resistance yang dapat menjadi dasar dari strategi trading itu sendiri. Apakah Anda memilih satu atau dua time frame tertentu atau menggunakan alat trading berkualitas untuk melakukan analisis multiple-time frame dalam satu grafik, Bollinger Bands memberikan informasi yang dapat dipahami dengan cepat yang Anda butuhkan untuk berhasil dalam trading.

Bagaimana Cara Menggunakan Bollinger Bands?

Sebelum kita membahas cara menggunakan Bollinger Bands, penting untuk dicatat: Ketika harga menyentuh Upper Band, itu tidak selalu berarti Anda harus menjual. Begitu juga, ketika harga menyentuh Lower Band, itu tidak selalu berarti Anda harus membeli. Sebenarnya, dengarkanlah dari John Bollinger sendiri yang mengatakan, “Tidak ada yang spesial tentang sentuhan garis bollinger yang dapat menjadi sinyal yang berdiri sendiri.”

Harga dapat “berjalan di sepanjang band” selama downtrend atau uptrend yang kuat. Ini berarti ada berulang kali harga menyentuh atau menembus Lower atau Upper Band. Itulah sebabnya mengapa Anda mungkin tidak ingin mengambil tindakan ketika harga menyentuh salah satu band—sebaliknya, Anda mungkin lebih suka menunggu dan mencari pola chart seperti “double bottom,” “classic M top,” atau formasi “three pushes to high.”

1. Mengidentifikasi Kondisi Overbought dan Oversold

Salah satu pemakaian utama indikator Bollinger Bands adalah buat mengidentifikasi potensi kondisi atas overbought (jenuh beli) dan juga oversold (jenuh jual) di pasar. Kondisi overbought terjadi saat harga naik terlalu tinggi dan terlalu cepat, dan cenderung mengalami pullback atau pembalikan arah.

Sebaliknya, kondisi oversold terjadi ketika harga turun terlalu rendah dan terlalu cepat, dan cenderung memantul atau berbalik arah. Indikator Bollinger Band dapat membantu mengidentifikasi kondisi-kondisi ini dengan mengukur deviasi standar dari pergerakan harga di sekitar Moving Average.

Untuk mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold menggunakan indikator Bollinger Band, ikuti langkah-langkah berikut:

Cari periode waktu di mana harga bergerak naik atau turun.

Identifikasi Upper Bollinger Band dan Lower Bollinger Band, yang masing-masing mewakili dua deviasi standar dari Moving Average.

Perhatikan apakah terdapat harga yang menyentuh atau melewati Upper dan atau Lower Band.

Jika harga menyentuh atau melewati Upper Band, ini dapat menandakan kondisi overbought.

Jika harga menyentuh atau melewati Lower Band, ini dapat menandakan kondisi oversold.

Konfirmasi sinyal dengan indikator teknikal atau alat analisis lainnya.

Tempatkan perdagangan berdasarkan sinyal dan strategi perdagangan. Jika Anda percaya harga jenuh beli, Anda dapat mempertimbangkan membuka posisi jual atau menutup posisi beli. Jika Anda percaya harga jenuh jual, Anda dapat mempertimbangkan membuka posisi beli atau menutup posisi jual.

2. Mengidentifikasi Pembalikan dan Kelanjutan Tren

Selain menandai kondisi overbought dan juga oversold, indikator Bollinger Bands juga bisa dipakai buat mengidentifikasi pembalikan dan kelanjutan tren. Berikut cara penggunaannya:

  1. Cari periode waktu di mana harga sedang bergerak naik atau turun.
  2. Identifikasi Upper Bollinger Band dan Lower Bollinger Band, yang masing-masing mewakili dua deviasi standar dari Moving Average.
  3. Perhatikanlah apakah harga telah menyentuh atau melewati Upper atau Lower Band. Jika harga melewati Upper Band, ini dapat menandakan kelanjutan dari tren naik. Jika harga melewati Lower Band, ini dapat menandakan kelanjutan dari tren turun.
  4. Cari sinyal pembalikan. Jika harga melewati Upper atau Lower Band dan kemudian dengan cepat berbalik arah, ini dapat menandakan potensi pembalikan tren.
  5. Konfirmasi sinyal dengan menggunakan alat analisis teknikal lainnya.
  6. Tempatkan perdagangan berdasarkan sinyal dan strategi perdagangan Anda. Jika Anda percaya harga akan melanjutkan tren, Anda dapat mempertimbangkan membuka posisi sesuai arah tren tersebut. Jika Anda percaya harga akan berbalik arah, Anda dapat mempertimbangkan membuka posisi melawan tren sebelumnya.

3. Dikombinasikan dengan Alat Analisis Teknis Lainnya

Meski indikator Bollinger Bands bisa jadi alat yang efektif dengan sendirinya, acapkali lebih efektif saat digunakan bersamaan dengan alat analisis teknikal yang lainnya. Berikut ini adalah beberapa cara tentang bagaimana para trader bisa memakai indikator Bollinger Band secara bersamaan dengan indikator yang lainnya.

Cross Moving Average

Para trader bisa memakai persilangan antara Bollinger Bands dan moving average sebagai sinyal buat masuk dan atau keluar dari perdagangan.

Contohnya, Anda menunggu harga melintasi di atas moving average dan Upper Bollinger Bands sebelum membuka posisi beli.

Harga yang ada harus kamu tunggu melintasi di bawah moving average dan juga Lower Bollinger Bands sebelum buka posisi jual.

Indeks Kekuatan Relatif (RSI)

RSI adalah indikator teknikal lain yang populer yang mengukur kekuatan pergerakan harga. Para trader dapat menggunakan indikator Bollinger Band bersamaan dengan RSI untuk mengidentifikasi titik masuk dan keluar potensial.

Contohnya, Anda menunggu RSI berada di wilayah overbought atau oversold, lalu mencari sinyal pembalikan pada Bollinger Bands.

Pola Candlestick

Pola candlestick bisa dipakai bersamaan dengan indikator Bollinger Bands dengan tujuan buat menandai potensi kelanjutan tren atau pembalikan.

Contohnya, Anda mencari pola candlestick bullish engulfing yang terbentuk dekat Lower Bollinger Band, yang dapat menandakan potensi pembalikan.

Garis Tren

Anda dapat menggambar garis tren pada grafik harga untuk membantu mengidentifikasi tren secara keseluruhan. Ketika digunakan bersamaan dengan indikator Bollinger Band, garis tren dapat membantu para trader mengidentifikasi potensi breakout atau pembalikan tren.

Manfaat Bollinger Band

Penggunaan indikator Bollinger Bands memang terlihat sederhana dan mudah dipahami, namun di balik itu semua, indikator ini memiliki manfaat yang cukup penting bagi para trader yang sedang belajar trading saham. Berikut adalah manfaat-manfaat yang dimaksud.

1. Membantu Pengukur Volatilitas

Pengukuran volatilitas pasar biasanya terlihat dari lebar bands (jarak antara dua band). Ketika volatilitas tinggi, jarak antara dua band akan lebih lebar, tetapi saat volatilitas rendah, jaraknya akan terlihat lebih sempit.

Bollinger Bands akan menyesuaikan diri dengan kondisi pasar pada suatu waktu dengan menghitung volatilitas harga. Hal ini amat berguna buat para trader karena hampir semua data harga yang dibutuhkan bisa ditemukan di antara dua garis tersebut.

Apabila nilai saham secara terus-menerus menyentuh garis atas, dapat dikatakan saham tersebut berada dalam fase overbought, namun jika berada di bawah garis atas selama periode tertentu, maka saham tersebut berada dalam tahap oversold.

Dengan demikian, biasanya para trader akan membeli saham jika saham tersebut mengalami oversold untuk memaksimalkan keuntungan. Namun, jika saham tersebut overbought, para trader akan sering menjual saham tersebut.

2. Menentukan Posisi Saat Pasar Sideways atau Trending

Sideways dapat diartikan sebagai harga yang cenderung naik dan turun secara terus-menerus dalam kisaran tertentu atau terbatas. Ketika pasar berada dalam kondisi sideways, para pelaku pasar dapat membuka posisi (entry).

Tren adalah harga yang cenderung bergerak di dalam satu arah, baik naik ataupun turun. Indikator Bollinger Bands bisa digunakan saat pasar berada di dalam kondisi trending dengan beberapa aturan.

Misalnya, ketika harga telah melewati garis atas, disebut sebagai uptrend. Ketika harga melewati garis bawah dan menutup di luar garis tersebut, disebut sebagai downtrend.

Contoh Cara Menggunakan Bollinger Bands untuk Trading Saham

Contoh Cara Menggunakan Bollinger Bands Saham
Sumber Foto: Stockbit via Stockbit

Grafik di atas ini menunjukkan contoh analisis saham SMRA dengan menggunakan Bollinger Bands (BB). Perhatikan bahwa ketika candlestick menyentuh garis BB (upper band atau lower band), harga saham cenderung memantul ke arah yang berlawanan.

Hal ini perlihatkan bahwa kedua garis BB cocok sebagai patokan buat titik support dan juga resistance yang cukup valid di dalam trading saham.

Jadi, setiap kali Anda melihat candlestick saham menyentuh garis BB, baik itu upper band atau lower band, Anda dapat bersiap-siap untuk membeli atau menjual saham.

Jika grafik saham menyentuh upper band, siapkan diri untuk menjual saham dan sebaliknya. Namun, jangan terburu-buru melakukannya. Sebaliknya, tunggu hingga saham dikonfirmasi telah memantul ke arah yang berlawanan, lalu lakukan transaksi.

Mengapa demikian? Alasannya karena dalam prakteknya, grafik tak selalu berbalik arah saat menyentuh upper dan atau lower bands, tetapi malah bisa melanjutkan tren. Untuk itu, Anda perlu menggabungkan analisis dan juga indikator teknikal yang lainnya buat mengantisipasi hal ini.

Anda dapat melihat contoh momen yang tepat untuk membeli dan menjual saham ketika menggunakan analisis indikator Bollinger Bands pada grafik di atas yang ditandai dengan panah berwarna oranye.

Sementara itu, panah lain menunjukkan garis MA 20, yang cocok sebagai area take profit pertama jika Anda telah membeli saham di area lower band.

Itu dia pembahasan tentang cara menggunakan Bollinger Bands.

Di Qoala, terdapat artikel managemen aset lainnya, selain cara menggunakan Bollinger Bands.

Jadi, selain mencari asuransi, jangan lupa untuk mencari info terkait manajemen aset juga ya di Qoala.