12 Prinsip Asuransi Syariah Sesuai Hukum Agama Islam

Artikel ini terakhir diperbarui September 8, 2021 by Rinaldi Syahran
12 Prinsip Asuransi Syariah Sesuai Hukum Agama Islam
Sumber foto: metamorworks Via Shutterstock
Bagikan ke Teman:

Di masa yang serba tak pasti seperti saat ini, membeli produk asuransi merupakan salah satu langkah nyata untuk menyelamatkan diri. Pasalnya, segala kemungkinan dan resiko buruk bisa terjadi kapan saja. Disinilah fungsi asuransi yang dapat mengalihkan risiko dari seseorang kepada perusahaan asuransi. Tentunya dengan pembayaran premi yang rutin setiap bulannya, nasabah akan mendapatkan manfaat proteksi yang besar.

Namun sayangnya, tidak semua orang sepakat dengan prinsip asuransi. Terlebih asuransi konvensional yang belum menjalankan dan memegang prinsip syariah. Untungnya saat ini telah hadir produk asuransi syariah yang berbanding lurus dengan kebutuhan masyarakat akan asuransi yang lebih syar’i dan menggunakan prinsip islami. Kehadiran asuransi syariah pun disambut baik oleh masyarakat.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang asuransi syariah, kamu perlu tahu apa itu asuransi syariah. Asuransi syariah adalah asuransi yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah serta tolong menolong dan saling melindungi diantara para peserta melalui pembentukan dana tabarru’ yang dikelola dengan prinsip syariah guna menghadapi risiko tertentu. Beberapa contoh asuransi syariah di Indonesia antara lain asuransi takaful, Prudential Syariah, AIA Syariah, BNI Life Syariah, dan lain sebagainya.

Asuransi syariah memiliki perbedaan konsep secara umum dengan asuransi konvensional yang muncul terlebih dahulu. Asuransi syariah tidak hanya menjalankan prinsip syariah saja, namun juga mengamalkan nilai-nilai islami yang menjadi dasar syariah. Lantas apa saja prinsip asuransi syariah yang kini berkembang pesat di Indonesia? Yuk, simak pembahasan Qoala berikut ini mengenai prinsip-prinsip asuransi syariah serta akadnya.

1. Asuransi Syariah Menjalankan Prinsip Tauhid

Asuransi Syariah Menjalankan Prinsip Tauhid
Sumber foto: Odua Images Via Shutterstock

Prinsip asuransi syariah yang pertama adalah menjalankan prinsip tauhid. Bahkan prinsip tauhid menjadi prinsip dasar dalam asuransi syariah. Tentunya poin ini menjadi poin yang perlu dipahami oleh calon nasabah dengan baik. Inti dari prinsip tauhid adalah niat dasar dari memiliki asuransi bukanlah mencari keuntungan saja, namun juga dalam rangka ikut serta dalam menerapkan prinsip dan ajaran syariah dalam asuransi.

Prinsip ini wajib dijadikan landasan karena asuransi syariah ditujukan untuk saling menolong sesama manusia (anggota), bukan semata-mata untuk perlindungan atas risiko yang mungkin menimpa diri sendiri di kemudian hari. Asuransi syariah memiliki tujuan yang lebih mulia, yaitu gotong royong dan tolong menolong antar sesama. Prinsip inilah yang paling membedakan antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional.

2. Pengamalan Prinsip Keadilan

Prinsip asuransi syariah yang kedua adalah prinsip keadilan. Pada asuransi syariah menerapkan prinsip keadilan yang mana nasabah dan perusahaan asuransi saling bersikap adil satu sama lain. Kedua belah pihak harus adil terkait dengan hak dan kewajibannya masing-masing. Tidak ada pihak yang menzalimi atau terzalimi atas kesepakatan dalam asuransi tersebut. Tentunya dengan adanya keadilan, kedua belah pihak merasa nyaman satu sama lain.

3. Prinsip Tolong-Menolong atau Ta’awun Antar Anggota

Asuransi syariah juga menerapkan prinsip tolong menolong atau ta’awun diantara anggotanya. Sama seperti prinsip tauhid, dalam prinsip tolong menolong nasabah tidak diperkenankan untuk mementingkan diri sendiri serta mencari keuntungan untuk diri sendiri. Masing-masing anggota harus saling membantu antara yang satu dengan yang lain. Misal jika salah satu anggota terkena musibah dan mengajukan klaim asuransi, maka prinsip inilah yang dipegang. Sementara pihak asuransi hanya berperan dalam mengelola dana saja pada asuransi berbasis syariah ini

4. Prinsip Kerja Sama dalam Asuransi Syariah

Berikutnya, ada juga prinsip kerja sama dalam asuransi syariah. Kerja sama disini maksudnya adalah kerja sama antara nasabah dengan perusahaan asuransi yang bertindak sebagai pengelola dana. Tentunya kerja sama dilakukan sesuai dengan akad atau perjanjian asuransi yang telah disepakati. Adanya kerja sama antara nasabah dan pihak asuransi membuat kedua belah pihak mampu memahami dan menjalankan hak serta kewajibannya masing-masing.

5. Asuransi Syariah Dilandasi Prinsip Amanah

Prinsip asuransi syariah berikutnya adalah amanah. Perusahaan asuransi yang berperan sebagai pengelola dana harus amanah atau dapat dipercaya dalam menjalankan tugasnya. Perusahaan tidak boleh semena-mena dalam menerapkan aturan, mengambil keputusan, serta mencari keuntungan. Begitu juga dengan nasabah asuransi, harus jujur dan terbuka ketika mengajukan klaim. Nasabah juga perlu amanah dan konsisten dalam membayar sejumlah premi yang diperjanjikan.

6. Prinsip Saling Rida (Al-Ridha) atau Kerelaan

Hal yang menjadi dasar pada asuransi syariah yang tak kalah penting adalah keridhaan atau kerelaan. Kedua belah pihak harus bersikap ridha satu sama lain terhadap setiap transaksi yang dilakukan. Hal ini bertujuan agar asuransi dapat berjalan dengan baik sesuai kesepakatan. Nasabah harus rela ketika dananya dikelola oleh perusahaan asuransi berdasarkan prinsip syariah. Pihak asuransi pun juga harus ridha dengan tugas yang diembannya. Pihak asuransi harus mengelola dana milik nasabah sesuai dengan aturan serta prinsip yang telah disepakati.

7. Menghindari Riba dalam Asuransi Syariah

Riba merupakan hal yang harus dihindari dalam prinsip syariah, karena bertentangan dengan nilai-nilai islami. Oleh karena itu, dalam menjalankan asuransi syariah, riba juga harus dihindari. Dana yang dikelola oleh pihak asuransi tidak boleh dimasukkan ke dalam instrumen yang mengandung riba dan tidak sesuai dengan syariah.

8. Dijalankan dengan Menghindari Bertaruh

Dalam asuransi konvensional, gambling atau pertaruhan (maisir) merupakan hal yang wajar. Namun hal ini bertentangan dengan prinsip syariah, Oleh karena itu, asuransi syariah tidak boleh dijalankan secara gambling. Sebaliknya, asuransi syariah menerapkan prinsip risk sharing atau sharing risiko antara nasabah dengan pihak asuransi dalam menjalankan asuransi. Dengan cara ini, tidak ada pihak yang merasa dirugikan karena sama-sama ridha atau rela.

9. Amanah atau Saling Percaya

Karena kedua belah pihak harus bersikap amanah atau dapat dipercaya, maka dalam menjalankan asuransi syariah, kedua belah pihak juga perlu menerapkan prinsip saling percaya. Nasabah harus percaya pada pihak asuransi sebagai pengelola dana, dan pihak asuransi juga harus percaya pada nasabah karena kejujurannya. Saling menjaga amanah merupakan prinsip asuransi syariah yang wajib dijalankan, baik oleh nasabah maupun pihak asuransi.

10. Menghindari Ketidakjelasan

Terdapat juga prinsip asuransi syariah lain yaitu menghindari ketidakjelasan. Dalam syariah diajarkan bahwa kita harus meninggalkan sesuatu yang tidak jelas atau gharar. Begitu juga dengan asuransi syariah, prinsip menghindari sesuatu yang tidak jelas harus dijalankan. Asuransi syariah menggunakan prinsip sharing of risk sehingga gharar dapat dihindari. Hal ini berbeda dengan asuransi konvensional yang menerapkan transfer of risk dimana semua risiko hanya ditanggung oleh salah satu pihak.

11. Menjauhi Praktik Suap-Menyuap

Prinsip asuransi syariah berikutnya adalah menjauhi praktik suap menyuap. Dalam menjalankan asuransi syariah, pihak nasabah maupun pihak asuransi tidak boleh melakukan suap menyuap. Suap menyuap merupakan bentuk kegiatan yang hanya menguntungkan satu pihak saja, sementara pihak yang lain dirugikan. Tentunya hal ini bertentangan dengan prinsip syariah yang dijalankan.

12. Pengamalan Akad dan Konsep Sesuai Agama Islam

Pada dasarnya, asuransi syariah menganut prinsip dan konsep yang sesuai dengan ajaran agama islam. Jadi dalam menjalankan kegiatannya, asuransi syariah harus menerapkan prinsip yang islami, termasuk akad-akad dan konsep di dalamnya. Akad-akad yang perlu diamalkan dalam asuransi syariah antara lain akad tabarru’, akad wakalah bil ujrah, dan akad mudharabah. Sedangkan konsep yang harus dijalankan antara lain konsep kontribusi, konsep iuran dana tabarru’, serta konsep surplus atau defisit underwriting.

1. Akad Tabarru’

Akad tabarru’ merupakan akad dalam bentuk pemberian dana atau hibah dengan tujuan saling tolong menolong antara sesama anggota. Dalam akad ini antar anggota tidak bertujuan untuk mencari keuntungan atau komersil, melainkan murni saling membantu. Di dalam akad tabarru’, peserta akan memberikan hibah kepada peserta lain dengan tujuan menolong sesama yang terkena musibah. Sementara perusahaan asuransi bertindak sebagai pengelola dari dana hibah tersebut. Hal ini diatur dalam Fatwa DSN No. 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah.

Akad tabarru’ dalam asuransi syariah harus memuat sekurang-kurangnya:

  1. Kesepakatan peserta untuk saling tolong menolong (ta’awun)
  2. Hak dan kewajiban peserta secara individu
  3. Hak dan kewajiban peserta secara kolektif dalam kelompok
  4. Cara serta waktu pembayaran santunan dan kontribusi
  5. Ketentuan mengenai boleh tidaknya dana ditarik kembali
  6. Ketentuan mengenai alternatif serta persentase pembagian surplus underwriting

2. Akad Wakalah bil Ujrah

Selain akad tabarru’ pada asuransi syariah juga dikenal akad wakalah bil ujrah yang memberikan kuasa kepada perusahaan asuransi untuk mengelola dana investasi peserta sesuai dengan wewenang yang diberikan dengan imbalan berupa ujrah atau fee. Akad ini diperbolehkan dalam asuransi syariah karena dalam hal perusahaan berperan sebagai pengelola serta mendapatkan ujrah telah mendapatkan kuasa dari peserta.

Akad wakalah bil ujrah harus memuat sekurang-kurangnya:

  1. Objek yang pengelolaannya dikuasakan
  2. Hak dan kewajiban peserta baik secara individu maupun kolektif
  3. Hak dan kewajiban perusahaan sebagai penerima kuasa termasuk kewajiban perusahaan untuk menanggung segala risiko atas pengelolaan dana akibat kesalahan yang disengaja, kelalaian, atau wanprestasi yang dilakukan oleh perusahaan
  4. Batasan kuasa yang diberikan kepada perusahaan
  5. Besaran dan waktu pemotongan fee atau ujrah

Dalam akad wakalah bil ujrah, perusahaan bertindak sebagai wakil yang bertugas mengelola dana. Sedangkan peserta bertindak sebagai individu atau kelompok pemberi kuasa untuk mengelola dana.

3. Akad Mudharabah

Akad dselanjutnya adalah akad mudharabah. Akad mudharabah merupakan akad untuk memberikan bagi hasil atas pengelolaan dana asuransi. Dalam akad ini, peserta atau nasabah memberikan kuasa kepada perusahaan asuransi untuk mengelola dana asuransi atau investasi peserta sesuai dengan wewenangnya dengan imbalan berupa nisbah atau bagi hasil dengan besaran yang telah disepakati oleh kedua pihak.

Akad mudharabah wajib memuat sekurang-kurangnya:

  1. Hak dan kewajiban peserta secara individu maupun kolektif
  2. Hak dan kewajiban perusahaan untuk menanggung seluruh kerugian yang diakibatkan oleh kelalaian atau wanprestasi yang dilakukannya
  3. Batasan wewenang yang diberikan kepada perusahaan
  4. Cara dan waktu penentuan besar kekayaan peserta dan kekayaan perusahaan
  5. Bagi hasil serta waktu pembagian hasil investasi

4. Konsep Kontribusi

Konsep kontribusi dalam prinsip asuransi syariah merupakan sejumlah dana yang dibayarkan oleh peserta kepada perusahaan asuransi yang sebagian digunakan sebagai iuran tabarru’ dan sebagian lagi sebagai fee atau ujrah bagi perusahaan., Dalam hal ini, kontribusi peserta asuransi diwujudkan dalam bentuk pembayaran premi yang jumlah dan jangka waktunya telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak.

5. Konsep Iuran Dana Tabarru’

Pada asuransi syariah juga dikenal konsep iuran dana tabarru’, artinya sebagian kontribusi atau dana yang dibayarkan oleh peserta asuransi akan dimasukkan ke dalam kumpulan dana tabarru’ dengan berpedoman pada akad tabarru’.

6. Konsep Surplus atau Defisit Underwriting

Konsep surplus atau defisit underwriting merupakan selisih (baik lebih maupun kurang) dari total kontribusi peserta ke dalam dana tabarru’ setelah dikurangi dengan pembayaran klaim/santunan, kontribusi reasuransi, serta cadangan teknis dalam periode tertentu.

Dengan mengetahui apa saja prinsip asuransi syariah, nantinya kamu akan bisa menilai apakah asuransi yang kamu jalani saat ini memegang prinsip syariah atau tidak. Selain itu, mengetahui prinsipnya akan membuat kamu lebih tenang saat membeli atau memilih proteksi yang sesuai dengan prinsip islami. Untuk kamu yang ingin membeli produk asuransi, kamu bisa mengunjungi Qoala App untuk menemukan berbagai asuransi dengan premi dan manfaat yang menarik. Kunjungi juga Qoala Blog untuk dapatkan info keuangan terbaru.

Bagikan ke Teman:
Riza Dian Kurnia
A great storyteller and an enthusiastic listener. Dont stop when you are tired, stop when you are done.
Cari Asuransi Terbaik di Qoala