Apa itu Perusahaan Unicorn? Ini Daftarnya di Indonesia

Artikel ini terakhir diperbarui June 27, 2021 by Zaky Afdika
Apa itu Perusahaan Unicorn? Ini Daftarnya di Indonesia
Sumber foto: via Shutterstock
Bagikan ke Teman:

Selama satu dekade belakangan ini, eksistensi perusahaan startup sedang ramai bermunculan, terutama soal istilah perusahaan unicorn. Pada dasarnya, unicorn merupakan salah satu istilah yang merujuk pada salah satu perusahaan startup besar dan sering digunakan untuk mengklasifikasikan kelas perusahaan tersebut dari sisi finansialnya. Istilah unicorn juga menjadi perbincangan masyarakat Indonesia, namun ternyata masih banyak yang belum memahami makna istilah tersebut karena memang asing. Untuk lebih memahaminya, simak pembahasan mendalam tentang pengertian dari perusahaan unicorn dan juga jenis valuasi startup lainnya dari Qoala berikut ini.

Apa itu Perusahaan Unicorn?

 definisi perusahaan unicorn
Sumber foto: patiwat plangklang via Shutterstock

Sebelum kita membahas apa sebenarnya perusahaan unicorn itu, kita kenali dulu asal muasal pemberian nama Unicorn ini. Dalam mitologi Yunani, Unicorn adalah seekor kuda yang berasal dari daratan India yang cukup istimewa, sebab ia memiliki tanduk di kepalanya. Tanduk ini bukanlah tanduk biasa, rumornya tanduk ini mampu menetralkan racun apapun. Oleh karena itu, banyak yang mengagung-agungkan hewan ini meskipun tergolong langka.

Nama hewan mitos inilah yang kemudian digunakan oleh seorang kapitalis ventura asal Amerika Serikat bernama Aileen Lee pada tahun 2013 untuk menyebut perusahaan startup milik swasta yang memiliki valuasi sebesar USD 1 miliar atau setara dengan Rp14 triliun. Mengapa Unicorn? Sebab besaran angka valuasi ini sama-sama langka, tidak mudah untuk meraih pencapaian luar biasa ini, terlebih lagi jika yang meraih adalah perusahaan startup rintisan. Bukan perkara yang mudah karena perusahaan rintisan perlu memerhatikan jumlah dan nominal transaksi, jumlah pengguna aplikasi atau pelanggan, teknologi produk, kualitas tim, hingga terus berinovasi untuk bersaing dengan kompetitor.

Tidak semua bidang usaha yang baru dirintis bisa digolong sebagai startup. Hanya perusahaan yang bergerak di bidang informasi teknologi (IT) berbasis internet saja yang termasuk di dalamnya, misal pengembang aplikasi digital di bidang jasa pembayaran, transportasi, atau perdagangan. Menjamurnya startup kini dipicu oleh kemajuan teknologi di masa sekarang yang memungkinkan siapa saja untuk melakukan inovasi mendirikan perusahaan berbasis teknologi dengan berbagai macam ide unik dan menarik, bahkan hanya dengan mengandalkan ponsel pintar saja.

Dapat disimpulkan, istilah unicorn bisa disebut untuk mengukur tingkat kesuksesan sebuah startup. Di era digital, beberapa perusahaan startup terbukti berhasil mengimbangi kesuksesan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Riset terbaru mencatat setidaknya terdapat lebih dari 400 startup bergelar unicorn di dunia pada tahun 2020, padahal saat pertama kali istilah unicorn ini digunakan, jumlah perusahaan yang tergolong di dalamnya masih berjumlah sekitar 39 perusahaan saja.

6 Perusahaan Unicorn Indonesia

DI Indonesia sendiri sudah terdapat beberapa perusahaan startup ternama yang meraih kesuksesan menjadi perusahaan unicorn. Tak tanggung-tanggung, sudah ada satu di antaranya yang melenggang ke tingkatan valuasi yang lebih tinggi, yakni decacorn.

Hingga tahun ini sudah tercatat ada 6 perusahaan startup di Indonesia yang masuk ke dalam golongan Unicorn. Di bawah ini adalah daftar perusahaan unicorn di indonesia:

1. Gojek

Siapa yang tidak tahu Gojek? Gojek merupakan startup yang menggeluti industri teknologi dan transportasi yang didirikan tahun pada 2010 oleh Nadiem Makarim. Pada awalnya, Gojek hanya menawarkan layanan transportasi berbasis ojek online, yang kemudian pada tahun 2015 dibuatlah aplikasi mobile untuk memudahkan pemesanan.

Kiprah Gojek yang kini begitu besar di Indonesia tak lepas dari bantuan investor, dan pendanaan dalam jumlah besar inilah yang menjadikan Gojek menyandang gelar Unicorn karena telah mengantongi dana lebih dari USD 1 miliar atau setara dengan Rp14 triliun. Gojek meraih status tersebut pada Agustus 2016, setelah enam tahun berdiri. Dengan ini, Gojek adalah perusahaan startup unicorn pertama di Indonesia.

Sejak pertama kali dirilis, aplikasi Gojek dengan cepat meraih jumlah pengguna yang fantastis. Sebab selain menawarkan transportasi yang murah dan cepat juga sudah berevolusi menjadi lebih dari rangkaian 20 layanan saat ini. Kemajuan pesat dari Gojek juga telah memberikan dampak ekonomi bagi Indonesia serta mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia, maka dari itu tak heran jika dua tahun setelah meraih predikat Unicorn, kini Gojek sudah mendapatkan predikat Decacorn, satu tingkat di atasnya.

2. Bukalapak

Lahir dalam tahun yang sama dengan Gojek, Bukalapak adalah perusahaan startup yang bergerak di bidang marketplace atau menyediakan sarana jual-beli dari konsumen ke konsumen. Bukalapak mendapatkan pendanaan dari Elang Mahkota Teknologi atau EMTEK.

Sejak kehadirannya, Bukalapak terus melakukan inovasi termasuk membuka kantor untuk pusat penelitian dan pengembangan. Salah satu inovasi teknologi yang dikembangkan di sana adalah drone hingga kecerdasan buatan alias AI. Bahkan, ada juga ide untuk mengembangkan toko ritel tanpa pramuniaga (unmanned retail) atau toko tanpa kasir yang seluruh proses pembeliannya dilakukan sendiri tanpa bantuan manusia, di mana teknologi ini sudah dilakukan di beberapa negara maju salah satunya Jepang.

Pada tahun 2017, Bukalapak akhirnya resmi menyandang gelar Unicorn. Kini telah melayani lebih dari 6 juta Pelapak, 5 Juta Mitra Bukalapak dan lebih dari 90 juta pengguna aktif. Melalui baik platform online maupun offline, Bukalapak sejak awal berkomitmen untuk pengembangan usaha kecil. Oleh karena itu mereka memberikan kesempatan dan pilihan kepada semua orang untuk meraih hidup yang lebih baik. Ke depannya, startup satu ini berencana ingin menjadi perusahaan yang lebih peduli dengan lingkungan.

3. Tokopedia

Tokopedia didirikan lebih awal dari dua startup di atas, yakni pada tahun 2009, oleh William Tanuwidjaja dan Leontinus Alpha Edison. Merupakan perusahaan startup yang berdiri di bidang bisnis e-commerce, yang memungkinkan tiap individu, toko kecil, dan sebuah brand untuk membuka dan mengelola toko online. Setelah delapan tahun berdiri, Tokopedia menyusul Gojek meraih predikat Unicorn kedua di Indonesia melalui pendanaan senilai USD 1,3 miliar.

Di tahun 2020, Tokopedia mengklaim telah menguasai sebesar 1,5 persen perekonomian di Indonesia. Hal ini didasarkan pada sejumlah 7,2 juta UKM yang tercatat bergabung dengan jumlah pengguna aktif bulanan mencapai 90 juta pengguna. Ke depan, Tokopedia berkomitmen untuk fokus berupaya mengembangkan ‘Super Ecosystem’ di mana setiap orang dapat berkontribusi dan memberikan nilai tambah bagi satu sama lain serta bertumbuh bersama. Hal ini diwujudkan dengan membangun jembatan pada banyak mitra, termasuk logistik dan pembayar, serta upaya membangun jaringan yang lebih luas dan kuat.

4. Traveloka

Sebelumnya, banyak yang tidak menduga bahwa Traveloka adalah perusahaan startup buatan anak bangsa. Terlebih lagi, perusahaan yang didirikan oleh Ferry Unardi dan dua rekannya di tahun 2012 ini juga telah menyabet predikat Unicorn. Perusahaan yang bergerak di bidang layanan pemesanan tiket pesawat dan hotel secara online dengan berfokus pada perjalanan domestik di Indonesia ini memang terbilang masih muda. Sehingga membuatnya sebagai perusahaan startup Indonesia termuda yang mampu meraih gelar Unicorn hingga kini.

Traveloka mendapatkan suntikan dana investasi dari perusahaan Amerika Serikat bernama Expedia sebesar USD 350 juta. Gelar Unicorn yang telah diraih sejak 2017 memperkuat posisi Traveloka sebagai pemimpin pasar industri travel di Indonesia. Kini Traveloka tak hanya dikenal sebagai unicorn di vertikal online travel, namun juga sudah merambah ke gaya hidup dan finansial lainnya.

5. OVO

Perusahaan selanjutnya adalah OVO sebagai perusahaan Unicorn di Indonesia yang kelima dengan valuasi sebesar USD 2,9 miliar. Hitungan valuasi ini jelas lebih tinggi dari pendahulunya, yaitu Bukalapak dan Traveloka. OVO merupakan aplikasi pembayaran serba bisa yang kini tengah menjadi fintech terbesar di Indonesia setelah menjalankan lebih dari 1 miliar transaksi di tahun 2018.

Kini OVO telah menjadi mitra pembayaran terpercaya di berbagai aplikasi e-commerce dan menjadi pembayaran digital pada aplikasi transportasi decacorn di ASEAN, Grab. Menariknya, OVO mampu melesat jadi perusahaan unicorn meskipun baru dirintis pada tahun 2017 kemarin. Hal ini disebabkan keberhasilan OVO dalam menjangkau pengguna lebih dari 300 juta di Indonesia.

6. JD.id

Satu lagi e-commerce yang berjaya meraih predikat Unicorn di Indonesia, JD.id pertama kali beroperasi di Indonesia pada tahun 2015 dengan berfokus pada bidang jual-beli secara online dengan belasan kategori pilihan produk. Bisnis JD.id berkembang pesat di Indonesia, dilihat dari jumlah produk yang ditawarkan yang mengalami pertumbuhan cepat pula pada akhir tahun 2016.

Selain menyediakan platform jual-beli online, JD.id juga menyediakan jasa pengiriman yang menjangkau sebanyak 365 kota di seluruh Indonesia. Mereka berhasil meraih pendanaan sebesar USD 1 miliar setelah mengikuti joint ventures dengan beberapa perusahaan berpendanaan besar, dan menjadikannya e-commerce ketiga di Indonesia yang memiliki status Unicorn.

Jenis Valuasi Start-up Selain Unicorn

 jenis valuasi start up
Sumber foto: Gonzalo Aragon via Shutterstock

Valuasi merupakan acuan besaran potensi bisnis atau nilai ekonomi (umumnya di bursa saham) pada sebuah perusahaan. Angka valuasi juga bisa dijadikan acuan untuk mengukur seberapa besar potensi bisnis sebuah perusahaan. Sejak startup semakin banyak masuk ke Indonesia, istilah ini menjadi bahasan menarik karena berkaitan dengan pendanaan yang memiliki jumlah fantastis.

Nah, jenis valuasi startup ternyata tidak hanya unicorn, lho. Tingkat unicorn masih bisa berkembang ke level selanjutnya yakni decacorn, dan tingkatan paling tinggi yakni Hectocorn. Di bawah unicorn pun masih ada jenis evaluasi lainnya, kenali penjelasanya berikut ini:

1. Cockroach

Cockroach atau yang berarti kecoa dalam bahasa Inggris merupakan jenis level valuasi paling rendah atau yang pertama. Umumnya, istilah ini akan disematkan untuk perusahaan kecil dan baru dirintis yang belum menghasilkan nilai valuasi yang cukup tinggi. Walaupun begitu, perusahaan-perusahaan ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Justru karena nilai valuasinya yang masih kecil, mereka semakin tekun dan giat untuk menyusun strategi agar bisa menarik investor sebagai pemodal yang memberikan modal bisnis.

Semua startup digital pasti mengalami fase ini, dan siapa tahu, berkat kegigihan mereka justru mampu melejit dan masuk ke dalam jajaran startup unicorn. Makanya tidak salah disebut dengan istilah cockroach, karena kegigihan mereka sama dengan kemampuan daya tahan hidup tinggi yang dimiliki kecoa.

2. Ponies

Tingkatan valuasi selanjutnya adalah Ponies yang memiliki simbol kuda poni yang mungil. Istilah ponies digunakan untuk startup yang memiliki level valuasi hingga mencapai USD 10 juta atau sekitar Rp140 miliar.

Oleh karena itu, biasanya perusahaan yang berada di titik ini adalah perusahaan yang berhasil berkembang dan terus berupaya untuk meyakinkan investor agar mau menanamkan modal sehingga nilai valuasinya bertambah besar. Jika perusahaan tersebut mampu bertahan di level ini, tak menutup kemungkinan mereka akan semakin berkembang dan mampu naik ke level berikutnya.

3. Centaur

Level ketiga adalah Centaur yang dilambangkan oleh mahluk mitologi Yunani berbentuk manusia separuh kuda. Level Centaur diberikan pada perusahaan yang memiliki valuasi lebih tinggi dari level sebelumnya, yaitu meningkat hingga USD 100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun.

Pada level ini, jika perusahaan mampu terus mempertahankan nilai valuasi mereka maka akan semakin mudah untuk menarik investor. Dan jika banyak investor yang berminat untuk menanamkan modal, nilai valuasi mereka juga akan semakin besar dan membuat mereka bisa naik ke level selanjutnya, yakni Unicorn.

4. Decacorn

Setelah Unicorn ada level evaluasi yang lebih tinggi yang disebut dengan Decacorn. Dalam bahasa Yunani, deca atau deka merujuk pada angka 10, yang kemudian ditambah akhiran dari istilah unicorn. Sesuai dengan namanya, istilah ini disematkan pada perusahaan yang memiliki nilai valuasi 10 kali lipat dari nilai Unicorn, yaitu USD 10 miliar.

Startup ternama yang masuk dalam kategori tersebut contohnya WeWork, AirBnB, Pinterest, Snapchat, Uber, Xiaomi, dan perusahaan penerbangan luar angkasa Elon Musk, yakni SpaceX. Ada beberapa perusahaan asal Asia yang juga mampu mencapai level ini, seperti Toutiao (ByteDance), DJI Innovations, Grab, dan tujuh perusahaan lainnya. Termasuk di dalamnya adalah Gojek dari Indonesia yang meraih level Decacorn di tahun 2019. Ke depan, Tokopedia diharapkan mampu menyusul kesuksesan Gojek tersebut.

5. Hectocorn

Hectocorn dinobatkan sebagai level valuasi tertinggi saat ini, ditujukan sebagai gelar untuk perusahaan startup yang memiliki nilai valuasi yang sudah menyentuh nilai USD 10 miliar, 10 kali lipat dari nilai Decacorn. Sangat sulit untuk meraih gelar ini, sehingga perusahaan yang tergolong di dalamnya termasuk sangat langka. Saking langkanya, sampai tidak terlalu banyak informasi yang didapatkan untuk kategori yang satu ini.

Dari nilai valuasinya, perusahaan ternama yang masuk ke dalam kategori ini adalah Facebook, Google, Microsoft, dan Apple. Namun satu perusahaan yang sudah sangat terkenal di dunia dalam menyandang gelar ini, yakni ANT Financial atau yang sebelumnya dikenal dengan Alipay, salah satu perusahaan teknologi finansial yang bekerjasama dengan Alibaba Group milik Jack Ma. Tahun 2020 lalu, nama perusahaan ByteDance disebut-sebut sudah melenggang masuk ke jajaran ini dan menjadi perusahaan hectocorn kedua di Asia. Untuk saat ini masih belum ada perusahaan level hectocorn yang berasal dari Indonesia.

Meskipun sebenarnya sudah ada banyak perusahaan yang memiliki nilai valuasi lebih dari USD 100 miliar, sayangnya gelar ini tak bisa lagi disematkan untuk mereka. Sebab gelar hectocorn hanya bisa diberikan pada perusahaan startup atau rintisan yang sebenarnya masih dalam tahap pengembangan.

Pertanyaan Umum Seputar Perusahaan Unicorn

1. Apa Perbedaan Unicorn dan Decacorn?

Perusahaan unicorn adalah sebutan atau istilah yang digunakan untuk perusahaan startup yang telah mencapai nilai valuasi hingga USD 1 miliar atau sekitar Rp14 triliun. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh kapitalis asal Amerika Serikat bernama Aileen Lee. Selain unicorn, ada juga istilah decacorn dan hectocorn. Perbedaan unicorn dan decacorn merujuk pada nilai valuasinya. Decacorn adalah istilah yang diberikan untuk perusahaan startup yang memiliki nilai valuasi sebesar USD 10 miliar, 10 kali lipat di atas unicorn sehingga menjadikannya tingkatkan level di atasnya.

2. Unicorn di Indonesia Ada berapa?

Kini tercatat sudah ada sebanyak 6 perusahaan dari Indonesia yang berstatus Unicorn, yakni Tokopedia, JD.id, OVO, Bukalapak, Traveloka, dan Gojek.

3. Kenapa Sebuah Start-up Dapat Disebut Unicorn?

Istilah unicorn digunakan untuk perusahaan rintisan atau startup yang memiliki nilai valuasi mencapai USD 1 miliar atau setara dengan Rp14 triliun. Pencapaian tersebut masih terbilang langka, terlebih lagi jika diraih oleh perusahaan startup atau rintisan, sama seperti hewan mitos Unicorn yang terkenal langka. Tidak semua perusahaan rintisan digolongkan startup, karena istilah tersebut hanya digunakan untuk perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi berbasis internet saja, seperti pengembang aplikasi digital pada bidang jasa pembayaran, transportasi, atau perdagangan.

Itu dia penjelasan tentang perusahaan unicorn yang lebih mendalam, termasuk jenis-jenis valuasi lainnya. Untuk bisa meraih gelar tersebut, memang diperlukan kegigihan dan tekad yang kuat untuk terus mengembangkan perusahaan startup. Salah satu kunci keberhasilan untuk bisa meraihnya adalah manajemen perusahaan yang baik, terutama dalam manajemen keuangan. Dengan manajemen keuangan yang baik tentunya para investor akan semakin berminat dan bersedia untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Menjamurnya startup di Indonesia memungkinkan masih banyak perusahaan startup lainnya yang akan meraih gelar unicorn ke depannya dengan berbekal kunci kesuksesan tersebut. Terus simak Qoala Blog untuk informasi-informasi menarik dan lengkap lainnya seputar gaya hidup maupun keuangan.

Bagikan ke Teman:
Frieda Isyana Putri
Avid reader and a storyteller. I love the smell of new things, like new books, adventures and places.
Cari Asuransi Terbaik di Qoala